
- gambar diambil dari jalurpitu.blogspot.com
Tiupan angin yang menerpa segerombolan pohon
bambu seakan memecah keheningan,membuyarkan lamunan Angga yang edari
tadi tak henti-hentinya memikirkan hal yang kini tengah menimpa dirinya
dan keluarganya.Angga harus mulai memikirkan kelanjutan sekolahnya
setelah kini sang ayah tak lagi tinggal dengan ia,ibu dan kedua
adiknya.Perjuangan kerasnya seakan membentur tembok kokoh bernama
cobaan,sekarang ia harus mulai memikirkan nasib ibu dan kedua
adiknya.Tapi,apa yang ia pikirkan selalu menemui jalan buntu,ia merasa
belum saatnya ia harus memikirkan hal yang seharusnya menjadi
tanggungjawab sang ayah.Seolah angin segar yang bertiup dikala keringat
mengucur,Sang Ibunda selalu bisa membuat Angga yang merasa putus asa
kembali menemukan alur kehidupannya.

Bu,Angga merasa nggak kuat kalau harus seperti ini ujar Angga pada sang ibu,
Nggak kuat untuk apa ngga??? sang ibu bertanya dengan penuh perhatian
Angga nggak sanggup kalau harus memikirkanm elanjutan sekolah Angga tanpa bapak,bu!!
kenapa kamu harus nggak sanggup??bukankah
kamu dan bapakmua sama,sama-sama laki-laki dan insyaallah mempunyai jiwa
sebagai pemimpin?? Ibunda Angga coba menghilangkan tekanan dalam diri Angga.
Iya bu,Angga tahu itu,Angga dan bapak
sama,tapi Angga nggak akan bisa menyamai bapak,menyamai apa yang bapak
perbuat untuk keluarga kita , ujar Angga sambil menunduk dan menutup mukanya dengan kedua telapak tangannya.
jadi itu yang membuatmu gelisah akhir-akhir ini ngga??
Ya bu,Angga,,,,,,,,,,,Hah!!! terlihat sekali angga serasa tertekan
Ngga,kamu nggak harus menyamai bapakmu,kalau
kamu nggak bisa menyamai apa yang telah dilakukan bapakmu,kamu harus
bisa berbuat lebih dari apa yang telah diperbuat bapakmu,buktiin pada
bapak kalau kamu juga bisa!!! ujar sang ibu dengan lembut
Usai mendengar perkataan sang
ibu,Angga malah merasa perasaannya terombang-ambing,hatinya
gelisah.Bukan pilihan Angga untuk menjadi seperti ini,bukanpula
keinginannya menemui pilihan yang membimbangkan hatinya.Garis nasib sang
Pencipta-lah yang menyeret Angga berjumpa dengan hal seperti ini.Hingga
satu malam Angga bermimpi mendapati seorang anak kecil yang lantas dengan polos bertanya pada Angga
Kak,kenapa kakak murung ??? ,
setengah bingung Angga menjawab kakak udah nggak kuat dengan semua masalah yang menimpa kakak,dik .
Kak,tidakkah kakak punya agama???tidakkah
kakak bertanya pada Tuhan untuk menghadapi masalah ini???Bersujudlah
kak,bertahajudlah kak ,
Seketika Angga terbangun,duduk
termenung disisi tempat tidur ditemani remangnya bohlam 2,5 watt
dikamarnya.Ia bergegas,mengambir wudhu,memakai sarung,dan berganti
baju,bermunajat pada Allah.Ia curahkan segala rasanya,ia tumpahkan
airmata kepedihannya,ia merendah,sesenggukan dan hantya mampu berdzikir
ditengah keheningan malam.Bukan harta yang dipintanya,bukan tahta yang
diinginkannya,keutuhan keluarga kala menyambut puaa dimohonnya.
Mentari menyapa pagi,menghangatkan
rumput yang telah bermandikan embun membangunkan Angga yang tanpa sadar
terbaring pula diatas sajadahnya.Pintu kamar diketuk,Ibunda Angga
memasuki kamar Angga dan membangunkannya,Pagi itu Angga terlihat
bahagia,ajahnya berseri-seri,sang ibu heran namun tak ingin
menanyakannya,ia takut keceriaan itu pudar kembali dari wajah Angga.
Usai menyantap sarapan,Angga pun
pergi,ia bilang pada ibunya akan pegi menemui bapaknya. Tiba ditempat
sang bapak kini bekerja,Angga pun mendekat,ia sedikit berbisik pada sang
bapak,tak jelas apa yang dibisikkannya,setelah itu mereka pergi
meninggalkan pangkalan becak sang bapak.Tiba didekat jembatan,mereka
berhenti sejenak memandang hamparan hijaunya saah,Angga memulai
pembicaraan.
Pak,apa yang paling bapak inginkan didunia ini??? .
Sang bapak mengernyitkan dahi menunjukkan raut muka heran kenapa tiba-tiba Angga bertanya seperti itu.
Bapak Cuma ingin melihat kamu,ibumu dan kedua adikmu bahagia
Dengan cara bapak meninggalkan
kami??tidakkah bapak merasa rindu pada kami???ataukah bapak memang sudah
tak sayang kami lagi??? ,tanya Angga dengan nada agak tinggi.
Airmata meleleh,sang bapak memeluk Angga dan berkata
Bapak tak ingin membawa ibu dan kedua adikmu dalam kesengsaraan,biarkan
bapak sendiri yang merasakan kesengsaraan ini tanpa melibatkan ibu dan
adik-adikmu
Pak bukankah satu buah sapu lidi lebih susah
dipatahkan daripada sebatang lidi??? seperti itulah kita pak!!! jangan
biakan rasa pesimis menggerogoti jia bapak,pulanglah,kami rindu padamu
pak !!!
Sudikah ibu dan adik-adikmu menerima kembali bapak ngga???
Pak,kalau kami harus menyiapkan 1000 ketupat untuk mengajak bapak kembali kerumah,kami punya 1001 ketupat
Sang bapak luluh hatinya dan bersedia pulang dengan Angga,berkendarakan becak tua,diujung senja.Ditengah perjalanan kerumah,Angga sempat bicara pada sang ayah,
Pak,mentari Syaban sebentar lagi
terbenam,besok adalah ramadhan,Angga Cuma ingin besok menjadi bulan
ramadhan yang terindah bagi Angga,meskipun besok adalah ramadhan
terakhir bagi Angga .
Bapak Angga menjawab, ngga,kalaupun esok nafas kita masih diperpanjang,itulah hal terindah yang diberikan Allah untuk kita".