Bicara masalah makanan modern tak bisa jauh rasanya khayalan kita dibawa melayang ke Eropa. Tentu anda tahu, Perancis, pusat busana serta makanan dunia ada disana, sebut saja Ratattouille, makanan dengan bahan dasar terong ungu,paprika dan tomat ini pernah difilmkan dengan judul sama dengan nama olahannya. Sedangkan untuk harga dibanderol sekitar 7 Euro atau setara dengan 110 ribu rupiah, bukan harga yang murah memang untuk saya, tetapi sesuai dengan kualitas yang disajikan.
 |
Ratattouille Sumber : google |
Tak hanya Ratattouille di Perancis, adapula Kebab, makanan khas abad 14 dinasti Utsmani ini mulai merambah pasar di Indonesia dengan adanya franchise-franchise. Bahan dasar kebab pada umumnya memakai daging domba ataupun sapi, tapi khusus untuk wilayah Azerbaijan,Siprus,Yunani,Bulgaria dan beberapa daerah di India menyediakan pula daging babi. Menu tradisional dengan penampilan memukau ini dihargai 35 Lira atau setara dengan 160 ribu rupiah untuk satu porsi kebab, sedangkan kebab yang dijual oleh franchise gerobak di Indonesia hanya 16 ribu rupiah.
 |
Turkish Kebab Sumber : google |
Sehat di perut memang harus jadi perhatian utama, mari tengok menu sehat ala manusia modern.
Pernah dengar salad ? tentu sering, apalagi bagi anda yang vegetarian, makanan berbahan utama sayuran yang diracik dengan minyak zaitun dan mayonaise ini terlihat segar namun bisa menyebabkan mual buat saya. Kejadian yang bikin saya merasa kalau lidah saya memang tidak cocok dengan sayuran apalagi sama rasa aneh mayonaise.
 |
Monggo disantap sumber : google |
Di jaman modern seperti sekarang ini, banyak hal yang menjadi dasar pandangan seseorang dalam memilih makanan, apalagi orang yang mimilih golongan berduit. Pandangan akan rasa tentu utama, tapai pasti mereka yang berpendidikan sekaligus berduit pasti tak lupa untuk memilih yang sehat diperut meski menguras kantong. Harga selangit, porsi makanan minimalis,
cekli, dan rapi adalah ciri utama makanan mahal dengan konsep modern-nya. Penyebab utama pandang pilih makanan ini tak lain adalah ulah para chef yang terus menerus menelurkan ide-ide barunya, merancang keindahan makanan ketika disajikan serta memikirkan pula anggunnya ekspresi para penyantap olahannya.
Lihat saja betapa berbedanya hasil yang dikeluarkan di Indonesia dan di beberapa negara luar yang bahan makanannya impor dari sini. Bekicot, hewan berlendir yang keluar dari peraduannya setelah hujan dianggap binatang jorok dan menjijikkan di beberapa daerah di indonesia, sementara itu di Perancis sana hewan ini adalah menu eksklusif yang hanya ada di restoran kelas menengah keatas dengan harga tinggi.
 |
Escargot alias Bekicot Prancis Sumber : google |
Seperti njenengan lihat, betapa bekicot punya nilai jual tinggi di negara yang terkenal dengan menara Eiffel itu, nah kalo di Indonesia sini atau mungkin lebih tepat dan enak saya sebut kalo bekicot di daerah saya Nganjuk atau Kediri sana adalah komoditas yang bisa dimanfaatkan setiap musim penghujan. Tapi mirisnya harga bekicot mentah/masih hidup hanya sekitar 5 ribu sampai 10 ribu per kilonya. Untuk olahannya pun hanya itu-itu saja, digoreng, jadi sate atau paling banter jadi keripik.
 |
Olahan bekicot yang di sate sumber : google |
Jika saja orang-orang di negeri ini adalah orang kaya semua dan hobi makan bekicot semua mungkin bekicot akan diternakkan dan jadi komoditas unggul dan bisa menjadi selingan menu diantara dominasi daging sapi,kambing,ayam dan ikan. Toh makanan modern pun harus berinovasi dari makanan tradisional kan.